Pages

Jumat, 23 Oktober 2026

Jumat 23 Oktober 2026

 


 IDENTITAS


Nama Guru : Puji Rahmawati Ningsih, S.Pd


Mapel : Kokulikuler


Hari/Tanggal : Jumat, 23 oktober 2026


Fase/Kelas : Fase C / Kelas VI (Enam)


Materi : Drama dan peran


Pertemuan ke : 5


Berikut adalah rancangan Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP) berprinsip Mindful, Meaningful, Joyful, serta Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) untuk materi Seni Drama pada penampilan kokurikuler.


1. Capaian Pembelajaran (CP) - Seni Drama 

Elemen Mengalami (Experiencing) & Menciptakan (Creating):


Peserta didik mampu memeragakan teknik dasar seni peran (olah vokal, olah tubuh, dan olah rasa) secara konsisten, menganalisis karakter tokoh dalam naskah drama, serta berkolaborasi untuk menampilkan pertunjukan drama sederhana yang mencerminkan pemahaman nilai-nilai emosional dan sosial dalam kehidupan sehari-hari.


2. Tujuan Pembelajaran (TP)

TP 

TP 1: Peserta didik mampu menganalisis latar belakang, watak, dan emosi tokoh berdasarkan naskah drama melalui teknik bedah karakter.


TP 2: Peserta didik mampu mengaplikasikan teknik olah vokal, olah tubuh, dan olah rasa untuk membentuk penjiwaan peran secara terampil.


TP 3: Peserta didik mampu merancang blocking panggung dan meragakan dialog interaktif bersama kelompok.


TP 4: Peserta didik mampu menyajikan pertunjukan drama kokurikuler secara kolaboratif dan percaya diri.


Pendekatan Prinsip Pembelajaran (Mindful, Meaningful, Joyful)

Mindful (Sadar & Hadir Utuh)


Tujuan: Mengajak siswa menyadari emosi, respon fisik, dan intonasi diri sendiri sebelum mengekspresikan karakter orang lain.


Contoh TP: Melalui latihan pernapasan dan pemetaan emosi (body scan), peserta didik dapat mengidentifikasi perubahan gestur dan intonasi vokal diri sendiri secara sadar saat mengekspresikan emosi marah, sedih, atau bahagia.


Meaningful (Bermakna & Relevan)


Tujuan: Menghubungkan peran/karakter dalam drama dengan pengalaman kehidupan nyata siswa.


Contoh TP: Melalui analisis tokoh drama, peserta didik dapat menghubungkan konflik sosial tokoh dengan fenomena kehidupan sehari-hari serta mengambil nilai-nilai empati sosial yang relevan.


Joyful (Menyenangkan & Memotivasi)


Tujuan: Membangun suasana belajar yang gembira, bebas dari rasa takut salah, dan berbasis permainan peran.


Contoh TP: Melalui permainan improvisasi cermin (mirror game) dan simulasi peran berantai, peserta didik dapat mengeksplorasi ragam karakter dengan gembira dan percaya diri tanpa takut dinilai secara kaku.


3. Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

Tahap Tujuan Pembelajaran (TP) Aktivitas Utama (Prinsip) Alokasi Waktu

Tahap 1 

Eksplorasi Diri & Penjiwaan



Peserta didik dapat mengenali potensi vokal, gestur tubuh, dan pengolahan emosi dasar.


Latihan pernapasan sadar, pemetaan emosi, dan game improvisasi bergerak. (Mindful & Joyful) 2 JP

Tahap 2 

Analisis Naskah & Tokoh



Peserta didik dapat menganalisis watak dan motivasi tokoh dari naskah drama yang relevan.


Bedah peran kelompok, diskusi empati nilai tokoh dalam kehidupan nyata. (Meaningful) 2 JP

Tahap 3 

Eksperimen Teknik Olah Peran



Peserta didik dapat menerapkan olah vokal, tubuh, dan blocking panggung.


Simulasi adegan pendek menggunakan teknik cermin dan tebak emosi secara interaktif. (Joyful) 4 JP

Tahap 4 

Kolaborasi & Gladi Drama



Peserta didik dapat memadukan peran, dialog, dan tata panggung dalam tim pementasan.


Latihan alur adegan terpadu dengan umpan balik reflektif antarteman. (Mindful) 4 JP

Tahap 5 

Pementasan Kokurikuler & Refleksi



Peserta didik menyajikan pertunjukan drama dan melakukan refleksi diri.


Pementasan drama sekolah serta sesi berbagi nilai kehidupan dari pementasan. (Meaningful & Joyful) 4 JP

MATERI


Assalamu'alaikum Wr.Wb.


 الـحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَـمِيْنَ ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالـمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَعِيْنَ ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ


Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin,wa mantabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.


Sebelum kita masuk ke pembelajaran Pendidikan Pancasila mari kita renungkan kebesaran Allah SWT



Al-Khaliq (Maha Menciptakan): Allah SWT adalah zat yang menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk sumber daya alam yang melimpah dan potensi akal manusia.

Al-Malik (Maha Memelihara/Merajai): Allah SWT adalah penguasa mutlak yang mengatur, menjaga, dan memelihara keseimbangan alam agar tetap harmonis dan tidak rusak.

Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki): Allah SWT yang menjamin dan melimpahkan rezeki bagi seluruh makhluk-Nya melalui kekayaan alam dan kemampuan kerja manusia.






Apersepsi 


Anak-anak hari ini kita akan mempelajari tentang drama


MATERI DRAMA & TEKNIK MEMAINKAN PERAN (KOKURIKULER)

1. Pengertian Drama & Jenis Peran

Drama adalah karya seni pertunjukan yang menggambarkan kehidupan dan watak manusia melalui tingkah laku (akting) dan dialog yang dipentaskan di atas panggung.


Dalam drama, karakter atau peran dibagi menjadi beberapa jenis:


Protagonis: Tokoh utama yang menjadi pusat cerita. Biasanya membawakan nilai-nilai kebaikan atau memperjuangkan tujuan utama.


Antagonis: Tokoh penentang tokoh utama. Tokoh ini yang memicu timbulnya konflik atau masalah dalam cerita.


Tritagonis: Tokoh penengah atau penasihat yang membantu memberikan solusi dan meredakan konflik.


Figuran / Pemeran Pembantu: Tokoh pelengkap yang bertujuan memperkuat latar belakang suasana dan mendukung jalannya pementasan.


2. Teknik Dasar Memainkan Peran (Penjiwaan)

Untuk memainkan peran secara hidup dan meyakinkan pada penampilan kokurikuler, seorang pemain drama harus menguasai tiga olah dasar:


Olah Vokal:


Artikulasi: Kejelasan pengucapan kata dan kalimat.


Intonasi: Tinggi rendahnya nada suara sesuai emosi tokoh.


Proyeksi Suara: Ketahanan dan jangkauan vokal agar dapat terdengar jelas hingga penonton paling belakang tanpa harus berteriak kasar.


Olah Tubuh:


Kelenturan & Gestur: Gerak-gerik tubuh, gestur tangan, dan cara berjalan yang disesuaikan dengan usia, status sosial, dan kondisi fisik tokoh.


Blocking: Pengaturan posisi berdiri, pergerakan, dan arah panggung agar penampilan terlihat seimbang dan tidak membelakangi/menutupi pemain lain.


Olah Rasa / Jiwa:


Konsentrasi & Imajinasi: Kemampuan memfokuskan pikiran pada karakter dan latar cerita.


Empati Emosional: Mendalami perasaan (sedih, marah, gembira) tokoh yang dibawakan agar akting terasa alami dan tidak kaku.


3. Tahap Persiapan Pementasan Drama

Analisis Naskah: Membaca dan memahami tema, alur cerita, karakterisasi tokoh, serta latar belakang masalah.


Casting & Bedah Peran: Penentuan peran dan pendalaman watak tokoh secara detail.


Latihan (Reading & Pembentukan Karakter): Latihan membaca dialog, melatih vokal, hingga merancang gerakan di panggung.


Geladi Bersih (General Rehearsal): Latihan menyeluruh dengan kostum, tata rias, musik pendukung, tata cahaya, dan properti panggung.


LATIHAN SOAL DRAMA DAN PENJIWAAN PERAN

Soal 1

Dalam pementasan drama sekolah, Rian berperan sebagai seorang kakek tua yang bijaksana. Teknik latihan yang paling utama dilakukan Rian untuk membiasakan bentuk fisik dan gerak-gerik kakek tersebut adalah...


A. Olah rasa untuk meningkatkan konsentrasi


B. Olah tubuh dan analisis gestur


C. Olah vokal intonasi tinggi


D. Bedah naskah bersama sutradara




Soal 2

Tokoh penengah yang berfungsi membantu menyelesaikan konflik antara tokoh utama dan tokoh penentang dalam alur cerita drama disebut...


A. Protagonis


B. Antagonis


C. Tritagonis


D. Figuran




Soal 3

Saat pementasan drama berlangsung di aula sekolah, suara seorang pemain drama tidak terdengar jelas oleh penonton di barisan belakang. Unsur olah vokal yang perlu ditingkatkan oleh pemain tersebut adalah...


A. Improvisasi nada


B. Ekspresi mimik wajah


C. Artikulasi dan proyeksi suara


D. Penghayatan suasana panggung




Soal 4

Tujuan utama melakukan analisis naskah sebelum memerankan suatu tokoh dalam pementasan drama adalah...


A. Menghafal seluruh baris dialog secepat mungkin


B. Menentukan harga tiket dan tata cahaya panggung


C. Memahami latar belakang, motivasi, dan emosi karakter


D. Mengubah alur cerita drama sesuai keinginan sendiri




5. Pengaturan posisi berdiri, pergerakan, dan arah pemain di atas panggung agar pementasan terlihat seimbang dan artistik disebut...


A. Blocking


B. Reading


C. Casting


D. Dubbing



Kunci Jawaban


B. Olah tubuh dan analisis gestur


Penjelasan: Untuk membiasakan bentuk fisik, sikap tubuh, dan gerak-gerik khas seorang kakek tua, pemain perlu melatih fisik melalui olah tubuh serta mengamati/menganalisis gestur fisik target peran.


C. Tritagonis


Penjelasan: Tritagonis adalah tokoh penengah yang netral dan membantu menyelesaikan konflik antara protagonis (tokoh utama) dan antagonis (tokoh penentang).


C. Artikulasi dan proyeksi suara


Penjelasan: Artikulasi memastikan kelafalan kata jelas, sedangkan proyeksi suara (teknik pemantulan/jangkauan vokal) memastikan suara terdengar hingga barisan penonton paling belakang tanpa harus berteriak.


C. Memahami latar belakang, motivasi, dan emosi karakter


Penjelasan: Analisis naskah bertujuan untuk mendalami dimensi karakter (fisik, psikologis, dan sosial) agar pemeran dapat menghidupkan tokoh secara natural dan sesuai tuntutan cerita.


A. Blocking


Penjelasan: Blocking adalah aturan perpindahan, posisi, dan komposisi pemain di atas panggung agar pementasan estetik, seimbang, dan tidak menutupi pemain lain (blinding).


Refleksi Pembelajaran


Untuk Siswa: Pemahaman teori seni peran (acting) tidak hanya mengandalkan hafalan dialog, tetapi juga keterpaduan antara olah tubuh, olah vokal, dan olah rasa. Mengenal penokohan serta pengaturan panggung membantu siswa menghargai kerja sama tim dalam pementasan drama.


Untuk Guru: Soal-soal ini menguji pemahaman mendasar siswa mengenai seni peran dan tata panggung. Hasil evaluasi dapat digunakan untuk melihat sejauh mana siswa siap melangkah dari tahap teori menuju praktik pementasan drama secara langsung.


Kesimpulan Materi: Dasar-Dasar Seni Peran dan Teater


Keaktoran (Olah Tubuh & Vokal): Penguasaan peran membutuhkan latihan olah tubuh untuk menyesuaikan gestur fisik karakter dan olah vokal (artikulasi serta proyeksi) agar pesan dialog tersampaikan dengan jelas kepada penonton.


Analisis Karakter & Penokohan: Setiap tokoh memiliki peran spesifik dalam alur cerita (Protagonis, Antagonis, dan Tritagonis). Membedah naskah adalah langkah krusial untuk memahami motivasi dan emosi di 

balik tindakan tokoh.


Tata Panggung (Stage Management): Keberhasilan pementasan tidak hanya bergantung pada akting individu, melainkan juga komposisi panggung seperti blocking agar alur pergerakan pemain terlihat artistik dan seimbang di mata penonton.


Rabu, 21 Oktober 2026

Kamis, 22 oktober 2026

 


IDENTITAS

  1. Nama Guru : Puji Rahmawati Ningsih, S.Pd

  2. Mapel : Pendidikan Pancasila

  3. Hari/Tanggal : kamis, 22 oktober 2026

  4. Fase/Kelas : Fase C / Kelas VI (Enam)

  5. Materi : Melestarikan keberagaman budaya

  6. Pertemuan ke : 23

CP                                : Menyajikan hasil identifikasi sikap menghormati, menjaga, dan melestarikan keberagaman budaya sesuai semboyan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika di lingkungan sekitar
TP                                : Murid dapat Menyajikan hasil identifikasi sikap menghormati, menjaga, dan melestarikan keberagaman budaya sesuai semboyan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika di lingkungan sekitar

Metode / Model : Diskusi kelompok, tanya jawab, bermain peran, dan simulasi / Problem Based Learning (PBL) melalui praktik musyawarah di masyarakat.

Media / Alat peraga : Video/gambar keberagaman budaya di masyarakat, gambar pakaian adat, rumah adat, tarian daerah, makanan tradisional, kartu kasus, LKPD, kertas plano, spidol, dan papan tulis.

ATP:

  1. Murid mengidentifikasi bentuk keberagaman budaya di lingkungan masyarakat.

  2. Murid menjelaskan pentingnya sikap menghormati, menjaga, dan melestarikan keberagaman budaya sesuai semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

  3. Murid menganalisis permasalahan keberagaman budaya di masyarakat dan menentukan alternatif penyelesaian melalui musyawarah.

  4. Murid mempraktikkan musyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama dengan menghargai perbedaan pendapat.

  5. Murid menyajikan hasil identifikasi sikap menghormati, menjaga, dan melestarikan keberagaman budaya dalam kehidupan sehari-hari.

2. Mindful Learning (Pembelajaran Berkesadaran)

Murid mengamati gambar atau video keberagaman budaya di masyarakat dengan penuh perhatian. Murid menyadari bahwa keberagaman budaya merupakan anugerah Allah Swt. yang harus disyukuri, dihormati, dijaga, dan dilestarikan. Murid memahami pentingnya mendengarkan pendapat orang lain, tidak memaksakan kehendak, serta bersikap bijaksana dalam menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah.

3. Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna)

Murid menghubungkan materi keberagaman budaya dengan kehidupan nyata di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Melalui diskusi kelompok dan analisis kartu kasus, murid mengidentifikasi sikap yang mencerminkan penghormatan terhadap keberagaman budaya. Murid kemudian merancang solusi dan menyepakati langkah pelestarian budaya melalui musyawarah, sehingga dapat menerapkan nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.

4. Joyful Learning (Pembelajaran Menggembirakan)

Murid mengikuti kegiatan tebak gambar budaya Indonesia, berdiskusi dalam kelompok, dan bermain peran sebagai warga masyarakat yang sedang bermusyawarah menyelesaikan permasalahan keberagaman budaya. Murid bekerja sama menyampaikan pendapat, menghargai gagasan teman, dan membuat kesepakatan bersama. Setiap kelompok mempresentasikan hasil musyawarah dengan percaya diri dan memberikan apresiasi terhadap kelompok lain.

Surah Al-Hujurat Ayat 13 (Keragaman Suku dan Bangsa)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
  • Artinya: "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." [1]
  • Makna: Ayat ini adalah dasar utama dalam Islam untuk menghargai perbedaan budaya, suku, dan bangsa. Keragaman diciptakan bukan untuk saling bertikai, melainkan untuk saling mengenal (lita'arafu) dan merajut kebersamaan. 
materi pembelajaran:

1. Pengertian Keberagaman Budaya

Keberagaman budaya adalah kondisi masyarakat Indonesia yang memiliki berbagai macam kebudayaan, seperti bahasa daerah, pakaian adat, rumah adat, tarian tradisional, lagu daerah, makanan khas, dan adat istiadat.

Keberagaman budaya merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang harus dihormati, dijaga, dan dilestarikan. Meskipun memiliki budaya yang berbeda-beda, masyarakat Indonesia tetap bersatu dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

2. Bentuk-Bentuk Keberagaman Budaya Indonesia

Keunikan Pakaian Tulang Bawang, Baju Adat Lampung

a. Pakaian adat

Pakaian adat merupakan pakaian khas yang mencerminkan identitas suatu daerah. Contohnya adalah pakaian adat Lampung, Ulee Balang dari Aceh, dan Baju Bodo dari Sulawesi Selatan.

Nuwo Sesat: Rumah Adat Lampung yang Unik dan Bersejarah

b. Rumah adat

Rumah adat adalah bangunan tradisional yang memiliki ciri khas daerah. Contohnya Nuwo Sesat dari Lampung dan Rumah Gadang dari Sumatra Barat.

9 Tarian Tradisional Lampung yang Kaya Makna | IDN Times Lampung

c. Tarian tradisional

Tarian tradisional merupakan kesenian yang diwariskan secara turun-temurun. Contohnya Tari Sigeh Pengunten dari Lampung, Tari Saman dari Aceh, dan Tari Kecak dari Bali.

Seruit: Makanan Ikonik Lampung dan Filosofi Kebersamaan

d. Makanan khas daerah

Setiap daerah memiliki makanan khas dengan cita rasa yang berbeda. Contohnya seruit dari Lampung, pempek dari Sumatra Selatan, dan rendang dari Sumatra Barat.

Bentuk keberagaman lainnya adalah bahasa daerah, lagu daerah, alat musik tradisional, permainan tradisional, serta adat istiadat.

3. Sikap Menghormati Keberagaman Budaya

Sikap yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari antara lain:

  1. Menghargai budaya daerah lain.

  2. Tidak mengejek bahasa, pakaian, atau adat istiadat teman.

  3. Mau mempelajari kesenian dari daerah lain.

  4. Bekerja sama tanpa membeda-bedakan asal daerah.

  5. Menjaga dan melestarikan budaya daerah sendiri.

  6. Bangga terhadap kebudayaan Indonesia.

4. Manfaat Keberagaman Budaya

Keberagaman budaya memiliki manfaat sebagai berikut:

  • Memperkaya kebudayaan nasional.

  • Memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

  • Menumbuhkan sikap toleransi dan saling menghormati.

  • Menjadi identitas dan kebanggaan bangsa Indonesia.

  • Mengembangkan pariwisata dan memperkenalkan Indonesia kepada dunia.

5. Cara Melestarikan Keberagaman Budaya

Upaya pelestarian budaya dapat dilakukan dengan mempelajari tarian daerah, menggunakan dan mengenal bahasa daerah, mengikuti kegiatan seni budaya, mengenalkan makanan tradisional, serta membuat poster atau infografis tentang budaya Indonesia.

6. Keberagaman Budaya dalam Perspektif Pancasila dan Islam

Menghormati keberagaman budaya sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, terutama sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia. Kita harus menjaga persatuan meskipun memiliki perbedaan suku, budaya, bahasa, dan adat istiadat.

Dalam Islam, Allah Swt. menjelaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Oleh karena itu, kita hendaknya menghargai perbedaan, tidak merendahkan orang lain, dan menjaga persaudaraan.

7. Aktivitas Pembelajaran

Murid dibagi menjadi kelompok yang terdiri atas 4–5 orang untuk membuat poster atau infografis tentang keberagaman budaya Indonesia. Setiap kelompok memilih satu daerah dan menyajikan informasi tentang pakaian adat, rumah adat, tarian tradisional, makanan khas, serta cara melestarikannya.

Setelah selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasil karyanya dan memberikan apresiasi terhadap karya kelompok lain.

8. Kesimpulan

Keberagaman budaya merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang harus dihormati, dijaga, dan dilestarikan. Melalui sikap toleransi, gotong royong, dan saling menghargai, kita dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sesuai semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

rabu, 21 oktober 2026

 


IDENTITAS

  1. Nama Guru : Puji Rahmawati Ningsih, S.Pd

  2. Mapel : seni rupa

  3. Hari/Tanggal : rabu, 21 oktober 2026

  4. Fase/Kelas : Fase C / Kelas VI (Enam)

  5. Materi : Teknik menganyam dengan kertas buffalo

  6. Pertemuan ke : 23



Derajat Orang Berilmu (QS. Al-Mujadalah: 11)
Allah menegaskan bahwa Dia akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..
Untuk itu mari bersinergi bersama untuk menuntut ilmu, kita awali dengan doa dan semangat, mudah-mudahhan ilmunya bermanfat.

CP

Merefleksikan dan mengapresiasi karya diri sendiri dan teman sekelas menggunakan kosakata seni rupa yang sesuai.

TP

Peserta didik mengeksplorasi variasi teknik penggunaan alat dan bahan dalam berkarya seni rupa.

Metode / Model

Praktik langsung, demonstrasi, dan Project Based Learning (PJBL).

Media / Alat Peraga

Video, contoh karya anyaman, kertas Buffalo, penggaris, pensil, gunting, lem, dan alat tulis lainnya yang aman digunakan.

ATP

Peserta didik dapat mengeksplorasi variasi teknik penggunaan alat dan bahan dalam berkarya seni rupa melalui kegiatan menganyam dengan kertas Buffalo. Peserta didik mampu membuat karya anyaman sederhana dengan memperhatikan pola, kombinasi warna, kerapian, kreativitas, keamanan, dan fungsi karya. Peserta didik juga mampu menjelaskan teknik yang digunakan serta memberikan apresiasi terhadap karya diri sendiri maupun karya teman menggunakan kosakata seni rupa yang sesuai.

1. Mindful Learning (Pembelajaran Berkesadaran)

Murid mengamati contoh karya anyaman dengan penuh perhatian, mengenali pola, warna, bentuk, dan teknik menganyam. Murid menyadari pentingnya ketelitian, kesabaran, konsentrasi, serta kehati-hatian saat menyisipkan potongan kertas buffalo secara bergantian. Murid juga mensyukuri kemampuan dan kreativitas yang diberikan Allah Swt. dengan menghasilkan karya seni yang bermanfaat.

2. Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna)

Murid menghubungkan kegiatan menganyam dengan kehidupan sehari-hari, seperti pembuatan tikar, keranjang, dan berbagai kerajinan anyaman. Murid memahami bahwa teknik menganyam dapat menghasilkan karya yang memiliki nilai keindahan dan kegunaan. Melalui praktik menganyam kertas buffalo, murid belajar menerapkan pola anyaman, memadukan warna, serta memanfaatkan bahan sederhana menjadi karya seni yang kreatif.

3. Joyful Learning (Pembelajaran Menggembirakan)

Murid melakukan kegiatan menganyam kertas buffalo secara kreatif dan menyenangkan dengan memilih kombinasi warna serta pola sesuai ide masing-masing. Murid bekerja sama, saling membantu, dan berbagi pengalaman selama proses pembuatan karya. Setelah selesai, murid memajang hasil anyaman, melakukan apresiasi terhadap karya teman, dan menceritakan pengalaman serta tantangan yang dihadapi selama kegiatan menganyam.

Apersepsi:

Secara umum, seni rupa kriya dan pemanfaatan bahan alam (seperti daun, pelepah, atau serat tumbuhan yang biasa dipakai menganyam) dipandang sebagai karunia Allah untuk kemaslahatan manusia. 
  • Surah Saba' Ayat 13: Mengisahkan tentang pembuatan benda-benda seni dan utilitas tinggi (gedung, patung hiasan, wadah besar) oleh jin untuk Nabi Sulaiman A.S., yang menunjukkan bahwa keterampilan tangan untuk menciptakan perkakas bernilai estetika dan fungsi sangat dihargai dalam Islam.
  • Filosofi Anyaman dalam Islam: Para ulama dan perajin muslim sering mengaitkan seni menganyam dengan nilai spiritual: melatih sifat sabar (karena setiap silangan harus teratur), syukur (memanfaatkan serat alam tanpa merusaknya), dan fokus yang mendalam
Materi Ajar:

A. Pengertian Menganyam

Menganyam adalah teknik membuat karya seni dengan cara menyilangkan atau menyisipkan bahan secara bergantian sehingga membentuk pola yang teratur. Kegiatan menganyam dapat menggunakan berbagai bahan, seperti daun pandan, bambu, rotan, kertas, dan bahan lainnya.

Dalam pembelajaran Seni Rupa, murid dapat menggunakan kertas buffalo untuk membuat karya anyaman yang menarik, berwarna-warni, dan memiliki nilai keindahan.

B. Mengenal Kertas Buffalo

Kertas buffalo adalah jenis kertas yang relatif tebal dan tersedia dalam berbagai pilihan warna. Kertas ini dapat digunakan untuk membuat berbagai karya kerajinan, termasuk anyaman.

Kelebihan kertas buffalo untuk menganyam:

  1. Memiliki beragam pilihan warna.

  2. Cukup kuat untuk dibuat menjadi bilah anyaman.

  3. Mudah dipotong dan dibentuk.

  4. Dapat menghasilkan pola dan kombinasi warna yang menarik.

  5. Mudah diperoleh dan cocok digunakan untuk kegiatan prakarya di sekolah.

C. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat anyaman dari kertas buffalo adalah:

  1. Kertas buffalo dengan dua warna atau lebih.

  2. Gunting.

  3. Penggaris.

  4. Pensil.

  5. Lem atau perekat jika diperlukan.

  6. Alas kerja.

D. Teknik Dasar Menganyam dengan Kertas Buffalo

Paper Weaving Basket Instructions at Ali Farrow blog
Weaving Paper
20 Children's Paper Craft Ideas Kids Will Love
12

Teknik dasar menganyam kertas buffalo dilakukan dengan menyilangkan bilah kertas secara bergantian, yaitu satu bilah berada di atas dan bilah berikutnya berada di bawah.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Pola selang-seling: bilah kertas disusun dengan urutan atas–bawah secara bergantian.

  • Kerapian: jarak antarbilah dibuat teratur agar hasil anyaman tidak berantakan.

  • Ketegangan: bilah kertas ditarik secukupnya agar anyaman tidak terlalu longgar atau terlalu rapat.

  • Perpaduan warna: pemilihan warna yang serasi membuat hasil anyaman lebih menarik.

E. Langkah-Langkah Menganyam dengan Kertas Buffalo

Easy Paper Weave Craft for Kids (7 Steps!)

1. Menyiapkan alat dan bahan

Siapkan kertas buffalo dengan dua warna berbeda, gunting, penggaris, dan pensil.

How to Weave Paper Place Mats - Friday Fun, for kids - Aunt Annie's Crafts

2. Membuat pola dasar

Buat garis sejajar pada kertas buffalo sebagai panduan. Potong mengikuti garis dengan hati-hati, tetapi sisakan bagian tepi agar kertas tidak terputus seluruhnya.

Paper Weaving | Kids' Crafts | Fun Craft Ideas | FirstPalette.com

3. Menyisipkan bilah kertas

Masukkan bilah kertas warna lain secara bergantian melalui pola dasar. Pada bilah pertama, gunakan urutan atas–bawah–atas–bawah.

20 Children's Paper Craft Ideas Kids Will Love

4. Melanjutkan pola anyaman

Pada bilah kedua, balik urutannya menjadi bawah–atas–bawah–atas. Ulangi langkah tersebut hingga seluruh bagian terisi.

Easy Paper Weave Craft for Kids (7 Steps!)

5. Merapikan hasil anyaman

Atur bilah agar tersusun rapi, rapikan bagian tepi, lalu rekatkan ujung kertas jika diperlukan agar anyaman tidak mudah terlepas.

F. Unsur Seni Rupa dalam Karya Anyaman

Dalam membuat anyaman kertas buffalo, terdapat beberapa unsur seni rupa yang perlu diperhatikan.

Unsur Seni Rupa

Penerapan pada Anyaman

Garis

Garis sejajar pada potongan kertas membentuk pola anyaman.

Warna

Perpaduan dua warna atau lebih membuat karya menarik.

Bentuk

Susunan bilah menghasilkan bentuk anyaman, misalnya persegi atau persegi panjang.

Tekstur

Permukaan anyaman terasa berbeda karena terdapat bagian kertas yang saling bersilangan.

Pola

Pengulangan susunan atas–bawah menghasilkan pola yang teratur.

G. Sikap yang Dikembangkan

Melalui kegiatan menganyam dengan kertas buffalo, murid belajar untuk:

  1. Teliti dan sabar saat menyusun bilah kertas.

  2. Kreatif dalam memilih warna dan pola.

  3. Mandiri dalam menyelesaikan karya.

  4. Bertanggung jawab menjaga alat dan bahan.

  5. Menghargai karya sendiri maupun karya teman.

H. Kesimpulan

Teknik menganyam dengan kertas buffalo merupakan kegiatan membuat karya seni dengan menyilangkan bilah kertas secara bergantian sehingga membentuk pola yang teratur. Keberhasilan karya anyaman ditentukan oleh ketepatan teknik, kerapian susunan, kesabaran, dan perpaduan warna. Melalui kegiatan ini, murid dapat mengembangkan kreativitas, keterampilan motorik, ketelitian, serta apresiasi terhadap karya seni.

1. Kesimpulan Pembelajaran

Peserta didik telah mempelajari teknik menganyam menggunakan kertas buffalo dengan cara menyusun dan menyilangkan potongan kertas secara bergantian hingga membentuk pola anyaman yang rapi dan menarik. Melalui kegiatan praktik, peserta didik belajar mengenal unsur garis, pola, warna, dan tekstur dalam karya seni rupa dua dimensi.

Kegiatan menganyam melatih kreativitas, ketelitian, kesabaran, konsentrasi, dan keterampilan motorik halus peserta didik. Selain itu, peserta didik belajar menghargai karya sendiri dan karya orang lain serta menggunakan bahan secara hemat untuk mengurangi sampah.

2. Tindak Lanjut

  • Bagi peserta didik yang sudah mencapai tujuan pembelajaran: diberikan tugas pengayaan untuk membuat karya anyaman kertas buffalo dengan variasi pola, kombinasi warna, dan bentuk yang lebih kreatif.

  • Bagi peserta didik yang masih memerlukan bimbingan: diberikan pendampingan dalam memotong kertas, membuat pola, serta menyilangkan potongan kertas secara bergantian hingga menghasilkan anyaman yang rapi.

  • Kegiatan lanjutan: peserta didik memajang hasil karya di kelas, memberikan apresiasi terhadap karya teman, dan menceritakan proses pembuatan serta kesulitan yang dihadapi.

  • Penerapan dalam kehidupan sehari-hari: peserta didik diajak memanfaatkan bahan yang tersedia secara bijak, menjaga kebersihan lingkungan, dan menghargai kerajinan tradisional Indonesia.

Refleksi nilai karakter: Melalui kegiatan menganyam, peserta didik diharapkan semakin tekun, mandiri, kreatif, bertanggung jawab, dan bersyukur kepada Allah SWT atas kemampuan berkarya yang dimiliki.


Rabu, 21 oktober 2026

 N


IDENTITAS

  1. Nama Guru : Puji Rahmawati Ningsih, S.Pd

  2. Mapel : Pendidikan Pancasila

  3. Hari/Tanggal : rabu, 21 oktober 2026

  4. Fase/Kelas : Fase C / Kelas VI (Enam)

  5. Materi : Melestarikan keberagaman budaya

  6. Pertemuan ke : 23

CP                                : Menyajikan hasil identifikasi sikap menghormati, menjaga, dan melestarikan keberagaman budaya sesuai semboyan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika di lingkungan sekitar
TP                                : Murid dapat Menyajikan hasil identifikasi sikap menghormati, menjaga, dan melestarikan keberagaman budaya sesuai semboyan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika di lingkungan sekitar

Metode / Model : Diskusi kelompok, tanya jawab, bermain peran, dan simulasi / Problem Based Learning (PBL) melalui praktik musyawarah di masyarakat.

Media / Alat peraga : Video/gambar keberagaman budaya di masyarakat, gambar pakaian adat, rumah adat, tarian daerah, makanan tradisional, kartu kasus, LKPD, kertas plano, spidol, dan papan tulis.

ATP:

  1. Murid mengidentifikasi bentuk keberagaman budaya di lingkungan masyarakat.

  2. Murid menjelaskan pentingnya sikap menghormati, menjaga, dan melestarikan keberagaman budaya sesuai semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

  3. Murid menganalisis permasalahan keberagaman budaya di masyarakat dan menentukan alternatif penyelesaian melalui musyawarah.

  4. Murid mempraktikkan musyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama dengan menghargai perbedaan pendapat.

  5. Murid menyajikan hasil identifikasi sikap menghormati, menjaga, dan melestarikan keberagaman budaya dalam kehidupan sehari-hari.

2. Mindful Learning (Pembelajaran Berkesadaran)

Murid mengamati gambar atau video keberagaman budaya di masyarakat dengan penuh perhatian. Murid menyadari bahwa keberagaman budaya merupakan anugerah Allah Swt. yang harus disyukuri, dihormati, dijaga, dan dilestarikan. Murid memahami pentingnya mendengarkan pendapat orang lain, tidak memaksakan kehendak, serta bersikap bijaksana dalam menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah.

3. Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna)

Murid menghubungkan materi keberagaman budaya dengan kehidupan nyata di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Melalui diskusi kelompok dan analisis kartu kasus, murid mengidentifikasi sikap yang mencerminkan penghormatan terhadap keberagaman budaya. Murid kemudian merancang solusi dan menyepakati langkah pelestarian budaya melalui musyawarah, sehingga dapat menerapkan nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.

4. Joyful Learning (Pembelajaran Menggembirakan)

Murid mengikuti kegiatan tebak gambar budaya Indonesia, berdiskusi dalam kelompok, dan bermain peran sebagai warga masyarakat yang sedang bermusyawarah menyelesaikan permasalahan keberagaman budaya. Murid bekerja sama menyampaikan pendapat, menghargai gagasan teman, dan membuat kesepakatan bersama. Setiap kelompok mempresentasikan hasil musyawarah dengan percaya diri dan memberikan apresiasi terhadap kelompok lain.

Surah Al-Hujurat Ayat 13 (Keragaman Suku dan Bangsa)
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
  • Artinya: "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." [1]
  • Makna: Ayat ini adalah dasar utama dalam Islam untuk menghargai perbedaan budaya, suku, dan bangsa. Keragaman diciptakan bukan untuk saling bertikai, melainkan untuk saling mengenal (lita'arafu) dan merajut kebersamaan. 
materi pembelajaran:

1. Pengertian Keberagaman Budaya

Keberagaman budaya adalah kondisi masyarakat Indonesia yang memiliki berbagai macam kebudayaan, seperti bahasa daerah, pakaian adat, rumah adat, tarian tradisional, lagu daerah, makanan khas, dan adat istiadat.

Keberagaman budaya merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang harus dihormati, dijaga, dan dilestarikan. Meskipun memiliki budaya yang berbeda-beda, masyarakat Indonesia tetap bersatu dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

2. Bentuk-Bentuk Keberagaman Budaya Indonesia

Keunikan Pakaian Tulang Bawang, Baju Adat Lampung

a. Pakaian adat

Pakaian adat merupakan pakaian khas yang mencerminkan identitas suatu daerah. Contohnya adalah pakaian adat Lampung, Ulee Balang dari Aceh, dan Baju Bodo dari Sulawesi Selatan.

Nuwo Sesat: Rumah Adat Lampung yang Unik dan Bersejarah

b. Rumah adat

Rumah adat adalah bangunan tradisional yang memiliki ciri khas daerah. Contohnya Nuwo Sesat dari Lampung dan Rumah Gadang dari Sumatra Barat.

9 Tarian Tradisional Lampung yang Kaya Makna | IDN Times Lampung

c. Tarian tradisional

Tarian tradisional merupakan kesenian yang diwariskan secara turun-temurun. Contohnya Tari Sigeh Pengunten dari Lampung, Tari Saman dari Aceh, dan Tari Kecak dari Bali.

Seruit: Makanan Ikonik Lampung dan Filosofi Kebersamaan

d. Makanan khas daerah

Setiap daerah memiliki makanan khas dengan cita rasa yang berbeda. Contohnya seruit dari Lampung, pempek dari Sumatra Selatan, dan rendang dari Sumatra Barat.

Bentuk keberagaman lainnya adalah bahasa daerah, lagu daerah, alat musik tradisional, permainan tradisional, serta adat istiadat.

3. Sikap Menghormati Keberagaman Budaya

Sikap yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari antara lain:

  1. Menghargai budaya daerah lain.

  2. Tidak mengejek bahasa, pakaian, atau adat istiadat teman.

  3. Mau mempelajari kesenian dari daerah lain.

  4. Bekerja sama tanpa membeda-bedakan asal daerah.

  5. Menjaga dan melestarikan budaya daerah sendiri.

  6. Bangga terhadap kebudayaan Indonesia.

4. Manfaat Keberagaman Budaya

Keberagaman budaya memiliki manfaat sebagai berikut:

  • Memperkaya kebudayaan nasional.

  • Memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

  • Menumbuhkan sikap toleransi dan saling menghormati.

  • Menjadi identitas dan kebanggaan bangsa Indonesia.

  • Mengembangkan pariwisata dan memperkenalkan Indonesia kepada dunia.

5. Cara Melestarikan Keberagaman Budaya

Upaya pelestarian budaya dapat dilakukan dengan mempelajari tarian daerah, menggunakan dan mengenal bahasa daerah, mengikuti kegiatan seni budaya, mengenalkan makanan tradisional, serta membuat poster atau infografis tentang budaya Indonesia.

6. Keberagaman Budaya dalam Perspektif Pancasila dan Islam

Menghormati keberagaman budaya sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, terutama sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia. Kita harus menjaga persatuan meskipun memiliki perbedaan suku, budaya, bahasa, dan adat istiadat.

Dalam Islam, Allah Swt. menjelaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Oleh karena itu, kita hendaknya menghargai perbedaan, tidak merendahkan orang lain, dan menjaga persaudaraan.

7. Aktivitas Pembelajaran

Murid dibagi menjadi kelompok yang terdiri atas 4–5 orang untuk membuat poster atau infografis tentang keberagaman budaya Indonesia. Setiap kelompok memilih satu daerah dan menyajikan informasi tentang pakaian adat, rumah adat, tarian tradisional, makanan khas, serta cara melestarikannya.

Setelah selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasil karyanya dan memberikan apresiasi terhadap karya kelompok lain.

8. Kesimpulan

Keberagaman budaya merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang harus dihormati, dijaga, dan dilestarikan. Melalui sikap toleransi, gotong royong, dan saling menghargai, kita dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sesuai semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Selasa, 20 Oktober 2026

selasa, 20 Oktober 2026 Matematika

 

IDENTITAS

Nama Guru

Puji Rahmawati Ningsih

Mapel

matematika

Hari/Tanggal

Selasa, 20 Oktober 2026

Fase/Kelas

Fase C / Kelas VI (Enam)

Materi :

lokasi pada peta yang  menggunakan sistem berpetak

Pertemuan :22

Pertemuan ke


Good morning my lovely students. How are you?

Hopely you are healthy and happiness. 😍
Welcome to our class 6A. Let's study together and success together.


Derajat Orang Berilmu (QS. Al-Mujadalah: 11)
Allah menegaskan bahwa Dia akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..
Untuk itu mari bersinergi bersama untuk menuntut ilmu, kita awali dengan doa dan semangat, mudah-mudahhan ilmunya bermanfat.


CP:
Mengkonstruksi dan mengurai bangun ruang (kubus, balok, dan gabungannya) dan mengenali visualisasi spasial (bagian depan, atas, dan samping); membandingkan karakteristik antar bangun datar dan antar bangun ruang; serta menentukan lokasi pada peta yang  menggunakan sistem berpetak.

TP:

Peserta didik dapat Menentukan lokasi pada peta yang  menggunakan sistem berpetak


Metode/Model Pembelajaran

Ceramah interaktif, tanya jawab, diskusi kelompok, demonstrasi, pengamatan peta berpetak, praktik menentukan koordinat, latihan soal, dan Problem Based Learning (PBL).

Media/Alat Peraga

  1. Gambar peta sederhana yang menggunakan sistem berpetak.

  2. Peta lingkungan sekolah atau denah lokasi sederhana.

  3. Kertas berpetak dan pensil.

  4. Penggaris dan spidol warna.

  5. Kartu koordinat berupa huruf dan angka.

  6. Kartu gambar objek, seperti sekolah, masjid, rumah, taman, perpustakaan, dan pasar.

  7. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk menentukan lokasi objek berdasarkan koordinat.

  8. Papan tulis atau media digital untuk menampilkan peta berpetak.

ATP (Alur Tujuan Pembelajaran)

Peserta didik mampu mengenali sistem berpetak pada peta, memahami letak baris dan kolom, membaca koordinat, serta menentukan dan menunjukkan lokasi suatu objek pada peta berdasarkan koordinat baris dan kolom secara tepat. Peserta didik juga mampu menyelesaikan permasalahan kontekstual yang berkaitan dengan penentuan lokasi pada peta berpetak.

1. Mindful Learning (Pembelajaran Berkesadaran)

Peserta didik mengamati peta berpetak dengan cermat dan penuh perhatian. Guru membimbing peserta didik untuk memahami susunan baris dan kolom serta cara membaca koordinat pada peta. Peserta didik berlatih berkonsentrasi, teliti, dan tidak terburu-buru ketika menentukan lokasi suatu objek. Guru mengajak peserta didik menyadari bahwa ketelitian sangat penting agar tidak salah menunjukkan lokasi yang dimaksud.

2. Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna)

Peserta didik menghubungkan konsep koordinat pada peta berpetak dengan kehidupan sehari-hari, seperti menemukan lokasi ruang kelas, perpustakaan, masjid, taman, rumah, atau tempat umum lainnya. Melalui kegiatan mengamati denah sekolah dan menyelesaikan permasalahan kontekstual, peserta didik memahami manfaat sistem berpetak untuk menunjukkan lokasi suatu tempat secara tepat. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih bermakna karena dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

3. Joyful Learning (Pembelajaran Menggembirakan)

Peserta didik belajar melalui permainan mencari lokasi berdasarkan kartu koordinat, kuis tebak lokasi, dan tantangan menemukan objek pada peta berpetak secara berkelompok. Setiap kelompok bekerja sama, berdiskusi, dan berlomba secara sehat untuk menemukan lokasi yang tepat. Guru memberikan apresiasi terhadap usaha dan partisipasi peserta didik sehingga suasana pembelajaran menjadi menyenangkan, aktif,

A. Pengertian Peta Berpetak

Peta berpetak adalah gambar suatu wilayah yang dibagi menjadi beberapa kotak atau petak untuk memudahkan kita menentukan letak suatu tempat. Setiap petak memiliki posisi berdasarkan baris dan kolom.

Sistem berpetak membantu kita menemukan lokasi objek, seperti sekolah, masjid, rumah, taman, perpustakaan, dan pasar dengan lebih mudah dan tepat.

B. Mengenal Baris dan Kolom

  • Baris adalah susunan petak secara mendatar (horizontal).

  • Kolom adalah susunan petak secara tegak (vertikal).

  • Koordinat adalah keterangan yang menunjukkan posisi suatu objek pada peta berpetak.

Pada peta, kolom dapat diberi tanda huruf (A, B, C, D), sedangkan baris diberi tanda angka (1, 2, 3, 4).

C. Contoh Peta Berpetak

Perhatikan peta sederhana berikut!

A

B

C

D

1

🏫

🌳

🕌

🏠

2

📚

🏠

🌷

🏪

3

🌳

⚽

🏫

🌳

4

🏠

🛝

📚

🕌

Ilustrasi peta berpetak. Kolom ditandai huruf A–D dan baris ditandai angka 1–4.

Contoh cara membaca lokasi:

  • Sekolah 🏫 berada di koordinat A1 dan C3.

  • Masjid 🕌 berada di koordinat C1 dan D4.

  • Perpustakaan 📚 berada di koordinat A2 dan C4.

  • Toko 🏪 berada di koordinat D2.

Koordinat dibaca dengan menyebutkan huruf kolom terlebih dahulu, kemudian angka baris.

D. Langkah-Langkah Menentukan Lokasi

  1. Perhatikan judul atau keterangan pada peta.

  2. Temukan huruf yang menunjukkan kolom.

  3. Temukan angka yang menunjukkan baris.

  4. Cari pertemuan kolom dan baris yang dimaksud.

  5. Amati objek pada petak tersebut dan pastikan lokasinya benar.

E. Contoh Soal

Perhatikan peta berpetak di atas.

  1. Di manakah lokasi taman bunga 🌷?

  2. Objek apakah yang berada di koordinat B3?

  3. Jika seseorang ingin pergi ke masjid di koordinat C1, kolom dan baris manakah yang harus dicari?

  4. Perpustakaan berada di koordinat mana saja pada peta?

  5. Mengapa kita harus teliti saat membaca koordinat pada peta?

Kunci jawaban:

  1. C2.

  2. Lapangan atau bola ⚽.

  3. Kolom C dan baris 1.

  4. A2 dan C4.

  5. Agar tidak salah menentukan lokasi yang dituju.

F. Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Sistem berpetak dapat digunakan untuk membaca denah sekolah, mencari tempat duduk di aula, menemukan lokasi pada peta, dan membantu seseorang menunjukkan posisi suatu tempat kepada orang lain.

Dalam pembelajaran ini, peserta didik juga diajak bersyukur kepada Allah SWT atas kemampuan berpikir dan memahami keteraturan. Hal ini dapat dikaitkan dengan QS. Yunus ayat 5 yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan matahari dan bulan dengan perhitungan yang tepat.

Kesimpulan: Peta berpetak memudahkan kita menentukan lokasi suatu objek melalui baris, kolom, dan koordinat. Ketelitian dalam mem

 dan mendorong semangat belajar.


Jumat 23 Oktober 2026

   IDENTITAS Nama Guru : Puji Rahmawati Ningsih, S.Pd Mapel : Kokulikuler Hari/Tanggal : Jumat, 23 oktober 2026 Fase/Kelas : Fase C / Kelas ...