Pages

Kamis, 05 November 2026

kamis, 5 November 2026 SBDP

 IDENTITAS

  1. Nama Guru : Puji Rahmawati Ningsih, S.Pd

  2. Mapel : Seni Rupa

  3. Hari/Tanggal : kamis, 5 november 2026

  4. Fase/Kelas : Fase C / Kelas VI (Enam)

  5. Materi : Makrame

  6. Pertemuan ke : 22

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh



CP

Merefleksikan dan mengapresiasi karya diri sendiri dan teman sekelas menggunakan kosakata seni rupa yang sesuai.

TP

Peserta didik mengeksplorasi variasi teknik penggunaan alat dan bahan dalam berkarya seni rupa.

Metode / Model

Praktik langsung, demonstrasi, dan Project Based Learning (PJBL).

Media / Alat Peraga

Video, contoh karya anyaman, kertas Buffalo, penggaris, pensil, gunting, lem, dan alat tulis lainnya yang aman digunakan.

ATP

Peserta didik dapat mengeksplorasi variasi teknik penggunaan alat dan bahan dalam berkarya seni rupa melalui kegiatan menganyam dengan kertas Buffalo. Peserta didik mampu membuat karya anyaman sederhana dengan memperhatikan pola, kombinasi warna, kerapian, kreativitas, keamanan, dan fungsi karya. Peserta didik juga mampu menjelaskan teknik yang digunakan serta memberikan apresiasi terhadap karya diri sendiri maupun karya teman menggunakan kosakata seni rupa yang sesuai.

1. Mindful Learning (Pembelajaran Berkesadaran)

Murid mengamati contoh karya anyaman dengan penuh perhatian, mengenali pola, warna, bentuk, dan teknik menganyam. Murid menyadari pentingnya ketelitian, kesabaran, konsentrasi, serta kehati-hatian saat menyisipkan potongan kertas buffalo secara bergantian. Murid juga mensyukuri kemampuan dan kreativitas yang diberikan Allah Swt. dengan menghasilkan karya seni yang bermanfaat.

2. Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna)

Murid menghubungkan kegiatan menganyam dengan kehidupan sehari-hari, seperti pembuatan tikar, keranjang, dan berbagai kerajinan anyaman. Murid memahami bahwa teknik menganyam dapat menghasilkan karya yang memiliki nilai keindahan dan kegunaan. Melalui praktik menganyam kertas buffalo, murid belajar menerapkan pola anyaman, memadukan warna, serta memanfaatkan bahan sederhana menjadi karya seni yang kreatif.

3. Joyful Learning (Pembelajaran Menggembirakan)

Murid melakukan kegiatan menganyam kertas buffalo secara kreatif dan menyenangkan dengan memilih kombinasi warna serta pola sesuai ide masing-masing. Murid bekerja sama, saling membantu, dan berbagi pengalaman selama proses pembuatan karya. Setelah selesai, murid memajang hasil anyaman, melakukan apresiasi terhadap karya teman, dan menceritakan pengalaman serta tantangan yang dihadapi selama kegiatan menganyam.

Apersepsi:

Secara umum, seni rupa kriya dan pemanfaatan bahan alam (seperti daun, pelepah, atau serat tumbuhan yang biasa dipakai menganyam) dipandang sebagai karunia Allah untuk kemaslahatan manusia. 
  • Surah Saba' Ayat 13: Mengisahkan tentang pembuatan benda-benda seni dan utilitas tinggi (gedung, patung hiasan, wadah besar) oleh jin untuk Nabi Sulaiman A.S., yang menunjukkan bahwa keterampilan tangan untuk menciptakan perkakas bernilai estetika dan fungsi sangat dihargai dalam Islam.


A. Materi pembelajaran seni rupa makrame

1. Pengertian makrame

Makrame adalah seni membuat karya kerajinan dengan cara mengikat, menyilangkan, dan menyusun tali menjadi berbagai pola menggunakan simpul-simpul tertentu.

Makrame termasuk karya seni rupa tiga dimensi apabila bentuknya memiliki panjang, lebar, dan ketebalan atau volume. Karya makrame juga dapat berbentuk hiasan dua dimensi, misalnya hiasan dinding yang permukaan utamanya terlihat datar.

Contoh karya makrame:

  • Hiasan dinding.

  • Gantungan pot tanaman.

  • Gantungan kunci.

  • Gelang dan aksesori.

  • Tas sederhana.

  • Tempat botol atau wadah kecil.

2. Sejarah singkat makrame

Makrame berkembang dari keterampilan mengikat tali yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti membuat jaring, mengikat barang, dan menghias perlengkapan. Keterampilan tersebut kemudian berkembang menjadi seni kerajinan dekoratif yang dikenal di berbagai negara.

Saat ini, makrame banyak dibuat sebagai hiasan rumah, aksesori, dan produk kerajinan yang memiliki nilai estetis serta nilai jual.

3. Unsur seni rupa dalam makrame

Unsur seni rupa

Penjelasan dalam makrame

Garis

Terbentuk dari arah dan susunan tali.

Bentuk

Terlihat pada bentuk akhir karya.

Warna

Berasal dari warna tali yang digunakan.

Tekstur

Terlihat dan terasa pada permukaan simpul tali.

Ruang

Terbentuk dari jarak, rongga, dan susunan tali.

Irama

Muncul melalui pengulangan simpul atau pola.

Keseimbangan

Terlihat dari susunan tali yang seimbang.

4. Alat dan bahan membuat makrame

Bahan

  • Tali katun, tali kur, atau tali rami.

  • Ring kayu atau cincin gantungan.

  • Manik-manik sebagai hiasan.

Alat

  • Gunting.

  • Penggaris atau meteran.

  • Papan alas atau tempat mengikat.

  • Selotip atau penjepit.

Catatan keselamatan: Siswa menggunakan gunting dengan hati-hati dan mengikuti arahan guru. Untuk kelas VI, pilih proyek sederhana dengan bahan yang aman dan mudah ditemukan.

B. Jenis-jenis simpul makrame dan pengertiannya

Simpul merupakan bagian terpenting dalam pembuatan makrame. Setiap jenis simpul memiliki cara mengikat dan menghasilkan pola yang berbeda.

1. Simpul kepala (Lark’s Head Knot)

Pengertian: Simpul kepala adalah simpul untuk memasangkan tali pada batang kayu, ring, atau tali penyangga.

Cara membuat:

  1. Lipat tali menjadi dua bagian sehingga membentuk lengkungan.

  2. Letakkan lengkungan tali di atas batang kayu.

  3. Masukkan kedua ujung tali melalui lengkungan.

  4. Tarik kedua ujung tali hingga kencang.

Fungsi: Sebagai simpul awal untuk memasang tali sebelum membuat pola makrame.

2. Simpul pipih (Square Knot)

Pengertian: Simpul pipih adalah simpul yang dibuat dengan menyilangkan dan mengikat tali secara bergantian dari kanan dan kiri hingga menghasilkan bentuk yang rata.

Cara membuat:

  1. Siapkan empat utas tali.

  2. Silangkan tali paling kiri di atas dua tali tengah dan di bawah tali paling kanan.

  3. Masukkan tali paling kanan melalui celah menuju sisi kiri.

  4. Tarik kedua tali luar hingga terbentuk setengah simpul.

  5. Ulangi dengan arah sebaliknya untuk melengkapi simpul pipih.

Fungsi: Membuat pola datar, kuat, dan teratur untuk hiasan dinding, tas, atau gantungan pot.

3. Simpul setengah pipih (Half Square Knot)

Pengertian: Simpul setengah pipih adalah setengah bagian dari simpul pipih, yaitu simpul yang dibuat dengan satu arah penyilangan tanpa dilengkapi arah sebaliknya.

Cara membuat:

  1. Siapkan empat utas tali.

  2. Silangkan tali luar kiri melewati dua tali tengah.

  3. Masukkan tali luar kanan melalui celah yang terbentuk.

  4. Tarik kedua tali luar hingga kencang.

Fungsi: Jika simpul ini dibuat berulang kali dengan arah yang sama, hasilnya membentuk pola berpilin atau spiral.

4. Simpul spiral (Spiral Knot)

Pengertian: Simpul spiral adalah rangkaian simpul setengah pipih yang dibuat berulang kali dengan arah yang sama sehingga menghasilkan bentuk pilinan.

Cara membuat:

  1. Siapkan empat utas tali.

  2. Buat satu simpul setengah pipih.

  3. Ulangi simpul dengan arah yang sama.

  4. Teruskan hingga terbentuk pilinan sesuai panjang yang diinginkan.

Fungsi: Memberikan variasi bentuk pada gantungan pot, gelang, tali hias, dan aksesori makrame.

5. Simpul kanan dan simpul kiri

Simpul kanan

Pengikatan dilakukan dengan tali pengikat yang bergerak dari arah kanan sesuai urutan penyilangan. Simpul ini dapat menjadi bagian dari pola pipih atau pola berulang.

Simpul kiri

Pengikatan dilakukan dengan tali pengikat yang bergerak dari arah kiri sesuai urutan penyilangan. Simpul ini dapat dipadukan dengan simpul kanan untuk membentuk pola yang seimbang.

Catatan: Istilah simpul kanan dan simpul kiri dapat digunakan berbeda dalam buku atau panduan kerajinan. Untuk pembelajaran kelas VI, guru sebaiknya menunjukkan urutan tali secara langsung agar siswa memahami arah penyilangannya.

6. Simpul mati (Overhand Knot)

Pengertian: Simpul mati adalah simpul sederhana yang dibuat dengan membentuk lingkaran pada tali, kemudian memasukkan ujung tali ke dalam lingkaran dan menariknya hingga rapat.

Cara membuat:

  1. Bentuk lingkaran dengan ujung tali.

  2. Masukkan ujung tali ke dalam lingkaran.

  3. Tarik ujung tali hingga simpul mengencang.

Fungsi: Mengunci ujung tali agar tidak mudah terurai dan menjadi hiasan sederhana pada bagian akhir karya.

7. Simpul pengikat (Gathering Knot)

Pengertian: Simpul pengikat adalah simpul yang dibuat dengan melilitkan tali pada sekumpulan tali lain untuk menyatukan dan merapikannya.

Cara membuat:

  1. Kumpulkan beberapa utas tali.

  2. Letakkan seutas tali tambahan pada bagian kumpulan tali.

  3. Lilitkan tali tersebut beberapa kali mengelilingi kumpulan tali.

  4. Kunci ujungnya agar lilitan tidak mudah terlepas.

Fungsi: Merapikan bagian bawah gantungan, menyatukan rangkaian tali, dan memperindah hasil akhir karya.

Kesimpulan : siswa sudah menghasilkan karya dari tali kur

Refleksi : sebagian besar murid sudah memahami macam -macam simpul dalam makrame

Kamis, 5 November 2026 matematika

 Nama guru        : Puji RahmawatiNingsih S.Pd.

Mapel                : Matematika

Hari/Tanggal    : Kamis, 5 November 2026

Fase / Kelas      : C / 6A

Materi               :  Soal cerita skala

Pertemuan Ke   : 25


Tabik Pun 🙏 

Good morning my lovely students. How are you?

Hopely you are healthy and happiness. 😍
Welcome to our class 6A. Let's study together and success together.




Derajat Orang Berilmu (QS. Al-Mujadalah: 11)
Allah menegaskan bahwa Dia akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..
Untuk itu mari bersinergi bersama untuk menuntut ilmu, kita awali dengan doa dan semangat, mudah-mudahhan ilmunya bermanfat.


CP (Capaian Pembelajaran)

Peserta didik dapat memahami konsep skala dan menggunakannya untuk menentukan perbandingan jarak pada gambar atau peta dengan jarak sebenarnya serta menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan skala dalam kehidupan sehari-hari.

TP (Tujuan Pembelajaran)

Peserta didik dapat memahami pengertian skala, menentukan skala pada peta atau denah, menghitung jarak sebenarnya dan jarak pada peta, serta menyelesaikan permasalahan kontekstual yang berkaitan dengan skala secara tepat.

Metode/Model Pembelajaran

Ceramah interaktif, tanya jawab, diskusi kelompok, demonstrasi, pengamatan gambar peta dan denah, praktik menghitung skala, jarak pada peta dan jarak sebenarnya, latihan soal, presentasi hasil diskusi, serta Problem Based Learning (PBL).

Media/Alat Peraga

  1. Gambar peta Indonesia, peta Provinsi Lampung, dan denah sederhana.

  2. Contoh gambar peta yang dilengkapi dengan keterangan skala.

  3. Penggaris untuk mengukur jarak pada peta atau denah.

  4. Kertas berpetak dan kertas kosong untuk membuat denah sederhana.

  5. Pensil, penghapus, dan alat tulis lainnya.

  6. Kartu soal yang berisi permasalahan tentang skala.

  7. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk kegiatan menghitung skala, jarak pada peta, dan jarak sebenarnya.

  8. Papan tulis atau media digital untuk menampilkan gambar peta dan denah.

  9. Kalkulator sederhana jika diperlukan untuk membantu perhitungan.

ATP (Alur Tujuan Pembelajaran)

Peserta didik mampu memahami konsep skala sebagai perbandingan antara jarak pada peta atau gambar dengan jarak sebenarnya. Peserta didik mampu menentukan skala, menghitung jarak pada peta, dan menentukan jarak sebenarnya menggunakan rumus yang tepat. Peserta didik juga mampu menyelesaikan permasalahan kontekstual yang berkaitan dengan skala dalam kehidupan sehari-hari, seperti membaca peta, membuat denah rumah, dan memperkirakan jarak antarlokasi secara teliti, logis, dan bertanggung jawab.

1. Mindful Learning (Pembelajaran Berkesadaran)

Peserta didik mengamati gambar peta dan denah dengan cermat dan penuh perhatian. Guru membimbing peserta didik untuk memahami keterangan skala, membedakan jarak pada peta dengan jarak sebenarnya, serta memperhatikan satuan panjang yang digunakan. Peserta didik berlatih menghitung menggunakan rumus skala secara teliti, memeriksa kembali hasil perhitungan, dan tidak terburu-buru dalam menyelesaikan soal. Guru mengajak peserta didik menyadari bahwa ketelitian sangat penting dalam membaca peta dan menghitung jarak agar memperoleh hasil yang tepat.

2. Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna)

Peserta didik menghubungkan konsep skala dengan kehidupan sehari-hari, seperti membaca peta perjalanan, mengetahui jarak antara rumah dan sekolah, memperkirakan jarak antarkota, serta membuat denah rumah atau lingkungan sekolah. Melalui kegiatan mengamati peta dan mengukur jarak menggunakan penggaris, peserta didik belajar menentukan jarak pada peta, jarak sebenarnya, dan skala. Dengan demikian, peserta didik memahami bahwa konsep skala sangat bermanfaat untuk membantu manusia menggambarkan suatu wilayah atau benda berukuran besar ke dalam ukuran yang lebih kecil secara proporsional.

3. Joyful Learning (Pembelajaran Menggembirakan)

Peserta didik belajar melalui permainan mencari lokasi pada peta, kuis menghitung skala, tantangan mengukur jarak pada denah, dan kegiatan membuat denah sederhana secara berkelompok. Setiap kelompok bekerja sama mengamati peta, mengukur jarak menggunakan penggaris, menghitung jarak sebenarnya, dan mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan kelas. Guru memberikan apresiasi terhadap kreativitas, kerja sama, ketelitian, dan partisipasi peserta didik sehingga suasana pembelajaran menjadi menyenangkan, aktif, dan interaktif. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik dapat memahami konsep skala dengan cara yang menarik sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan komunikasi.

 Konsep Al-Qadar (Ukuran dan Proporsi yang Tepat)
Dalam matematika, skala adalah perbandingan ukuran agar hasil gambar atau tiruan sama persis proporsinya dengan objek asli. Allah menegaskan bahwa semua ciptaan-Nya memiliki "skala" ukuran yang ideal.

  • Ayat terkait:
    • “Inna kulla syai'in khalaqnahu biqadar”
      (“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” — [QS. Al-Qamar: 49])
    • “...wa khalaqa kulla syai'in fa qaddarahū taqdīrā”
      (“...dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” — [QS. Al-Furqan: 2])
📖 Rangkuman Materi Skala
Skala adalah perbandingan antara jarak pada gambar (peta/denah) dengan jarak yang sebenarnya di lapangan.
  • Contoh: Skala peta 1 : 250.000 artinya setiap 1 cm pada peta mewakili 250.000 cm (atau 2,5 km) jarak sebenarnya.
🔼 Segitiga Rumus Skala
Untuk memudahkan menghitung, kita bisa menggunakan metode segitiga ajaib berikut:
text
       [  Jp  ]
       /      \
    [ S ]  ×  [ Js ]
Gunakan kode dengan hati-hati.
  • Jp = Jarak pada Peta / Gambar (biasanya bersatuan cm)
  • S = Skala (ditulis dalam bentuk perbandingan, misal 1 : 100.000)
  • Js = Jarak Sebenarnya (biasanya bersatuan m atau km)
📝 Rumus Turunan
  1. Mencari Skala (S):

  2. Mencari Jarak pada Peta (Jp):

  3. Mencari Jarak Sebenarnya (Js):
⚠️ Tips Penting: Sebelum menghitung, selalu samakan satuan panjangnya menjadi centimeter (cm).
  • km → cm = dikali 100.000 (tambah 5 nol)
  • m → cm = dikali 100 (tambah 2 nol)

✍️ Soal Cerita dan Pembahasan
Berikut adalah 3 variasi soal cerita yang paling sering keluar dalam ujian:
Soal 1: Mencari Jarak Sebenarnya (Js)
Soal: Jarak kota P ke kota Q pada peta adalah 6 cm. Jika skala peta tersebut adalah 1 : 800.000, berapakah jarak sebenarnya antara kedua kota tersebut dalam satuan km?
Pembahasan:
  • Diketahui:
    • Jp = 6 cm
    • S = 1 : 800.000
  • Ditanya: Js (Jarak Sebenarnya)
  • Langkah:
  • Ubah ke km:
  • Jadi, jarak sebenarnya antara kota P dan Q adalah 48 km.
Soal 2: Mencari Jarak pada Peta (Jp)
Soal: Jarak rumah Andi ke sekolah adalah 1,5 km. Andi ingin menggambar denah jalan tersebut dengan skala 1 : 30.000. Berapa centimeter jarak rumah Andi ke sekolah pada denah?
Pembahasan:
  • Diketahui:
    • Js = 1,5 km = 1,5 × 100.000 = 150.000 cm
    • S = 1 : 30.000
  • Ditanya: Jp (Jarak pada Peta)
  • Langkah:


  • Jadi, jarak rumah Andi ke sekolah pada denah adalah 5 cm.
Soal 3: Mencari Luas Sebenarnya (Variasi Tingkat Lanjut)
Soal: Sebuah aula sekolah berbentuk persegi panjang digambar pada denah dengan ukuran panjang 10 cm dan lebar 6 cm. Jika skala denah adalah 1 : 200, berapakah luas aula sekolah yang sebenarnya dalam satuan meter persegi (m²)?
Pembahasan:
  • Tips: Cari panjang dan lebar sebenarnya terlebih dahulu, baru kalikan.
  • Mencari Ukuran Sebenarnya:
    • Panjang sebenarnya = 10 cm × 200 = 2.000 cm = 20 m
    • Lebar sebenarnya = 6 cm × 200 = 1.200 cm = 12 m
  • Mencari Luas Sebenarnya:
    Luas= Panjang sebenarnya x Lebar sebenarnya

Rabu, 04 November 2026

Rabu, 4 November 2026 SBDP


IDENTITAS

  1. Nama Guru : Puji Rahmawati Ningsih, S.Pd

  2. Mapel : seni rupa

  3. Hari/Tanggal : rabu, 4 november 2026

  4. Fase/Kelas : Fase C / Kelas VI (Enam)

  5. Materi : makrame

  6. Pertemuan ke : 24



Derajat Orang Berilmu (QS. Al-Mujadalah: 11)
Allah menegaskan bahwa Dia akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..
Untuk itu mari bersinergi bersama untuk menuntut ilmu, kita awali dengan doa dan semangat, mudah-mudahhan ilmunya bermanfat.

Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

Peserta didik dapat mengeksplorasi variasi teknik penggunaan alat dan bahan dalam berkarya seni rupa melalui kegiatan membuat makrame dengan tali. Peserta didik mampu membuat karya makrame sederhana dengan memperhatikan simpul, pola, kombinasi warna, kerapian, kreativitas, keamanan, dan fungsi karya. Peserta didik juga mampu menjelaskan teknik yang digunakan serta memberikan apresiasi terhadap karya diri sendiri maupun karya teman menggunakan kosakata seni rupa yang sesuai.

Prinsip Pembelajaran Mendalam

1. Mindful Learning (Pembelajaran Berkesadaran)

Murid mengamati contoh karya makrame dengan penuh perhatian, mengenali simpul, pola, warna, bentuk, dan teknik mengikat tali. Murid menyadari pentingnya ketelitian, kesabaran, konsentrasi, serta kehati-hatian saat membuat dan mengencangkan simpul secara berurutan. Murid juga mensyukuri kemampuan dan kreativitas yang diberikan Allah Swt. dengan menghasilkan karya seni yang bermanfaat.

2. Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna)

Murid menghubungkan kegiatan makrame dengan kehidupan sehari-hari, seperti gantungan kunci, gantungan pot tanaman, hiasan dinding, tatakan gelas, dan berbagai kerajinan simpul. Murid memahami bahwa teknik simpul dapat menghasilkan karya yang memiliki nilai keindahan dan kegunaan. Melalui praktik makrame, murid belajar menerapkan pola simpul, memadukan warna, serta memanfaatkan bahan sederhana menjadi karya seni yang kreatif.

3. Joyful Learning (Pembelajaran Menggembirakan)

Murid melakukan kegiatan membuat makrame secara kreatif dan menyenangkan dengan memilih warna tali serta pola simpul sesuai ide masing-masing. Murid bekerja sama, saling membantu, dan berbagi pengalaman selama proses pembuatan karya. Setelah selesai, murid memajang hasil makrame, melakukan apresiasi terhadap karya teman, dan menceritakan pengalaman serta tantangan yang dihadapi selama kegiatan membuat makrame.

Apersepsi

Secara umum, seni rupa kriya dan pemanfaatan bahan serat (seperti tali katun, rami, atau serat tumbuhan yang biasa dipintal menjadi tali) dipandang sebagai karunia Allah untuk kemaslahatan manusia.

  • QS. Saba' ayat 13: mengisahkan pembuatan benda-benda seni dan berguna (bangunan, patung hiasan, wadah besar) untuk Nabi Sulaiman a.s. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan tangan untuk menciptakan karya yang indah dan berfungsi sangat dihargai dalam Islam.
  • Filosofi simpul dalam Islam: para perajin muslim sering mengaitkan seni membuat simpul dengan nilai spiritual, yaitu melatih sifat sabar (karena setiap simpul harus dibuat teratur dan kuat), syukur (memanfaatkan bahan dengan bijak), dan fokus yang mendalam.
  • Itqan (bekerja dengan sungguh-sungguh): dalam hadis yang diriwayatkan Imam Thabrani disebutkan bahwa Allah menyukai seseorang yang apabila bekerja, ia menyelesaikannya dengan itqan, yaitu teliti, rapi, dan tuntas. Nilai ini sejalan dengan kerapian simpul makrame.

Materi Ajar

A. Pengertian Makrame

Makrame adalah seni kriya yang dibuat dengan cara mengikat atau menyimpulkan tali secara berulang tanpa menggunakan alat tenun, sehingga membentuk pola yang teratur dan indah. Makrame dapat dibuat dari berbagai jenis tali, seperti tali katun, tali kur, tali rami (jute), dan benang wol tebal.

Dalam pembelajaran Seni Rupa, murid dapat menggunakan tali katun atau tali kur untuk membuat karya makrame yang menarik, berwarna-warni, dan memiliki nilai keindahan serta kegunaan.

B. Mengenal Tali Makrame

Tali makrame adalah tali yang cukup tebal, lentur, dan tersedia dalam berbagai pilihan warna. Tali ini dapat digunakan untuk membuat berbagai karya kerajinan, seperti gantungan kunci, gantungan pot, dan hiasan dinding.

Kelebihan tali katun/kur untuk membuat makrame:

  • Memiliki beragam pilihan warna.
  • Lentur dan nyaman dipegang sehingga mudah disimpul.
  • Cukup kuat untuk digunakan sebagai gantungan.
  • Mudah dipotong dan dirapikan.
  • Mudah diperoleh dan cocok digunakan untuk kegiatan prakarya di sekolah.

C. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat makrame sederhana (gantungan kunci) adalah:

  • Tali katun atau tali kur dengan satu warna atau lebih.
  • Gunting.
  • Penggaris atau meteran.
  • Cincin gantungan kunci, ring kayu, atau batang kayu kecil.
  • Manik-manik kayu (jika diperlukan).
  • Lakban kertas atau papan penjepit untuk menahan tali.
  • Sisir atau jarum/tusuk untuk merapikan ujung rumbai.

D. Teknik Dasar Makrame

Teknik dasar makrame dilakukan dengan membuat simpul-simpul tertentu secara berulang. Dua simpul yang paling sering digunakan pada tingkat dasar adalah:

  1. Simpul kepala (lark's head knot): simpul awal untuk memasang tali pada cincin atau batang kayu.
  2. Simpul pipih (square knot): simpul utama yang dibuat dengan menyilangkan tali kiri dan kanan secara bergantian di sekeliling tali inti, sehingga membentuk pola datar yang rapi.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Urutan simpul: simpul dibuat dengan urutan kiri–kanan dan kanan–kiri secara bergantian agar polanya seimbang.
  • Kerapian: jarak antarsimpul dibuat teratur agar hasil makrame tidak berantakan.
  • Ketegangan: tali ditarik secukupnya agar simpul tidak terlalu longgar atau terlalu kencang.
  • Perpaduan warna: pemilihan warna tali yang serasi membuat hasil makrame lebih menarik.
  • Keselamatan: gunakan gunting dengan hati-hati dan jangan mengikat tali di tangan atau leher teman.

E. Langkah-Langkah Membuat Makrame (Gantungan Kunci Simpul Pipih)

1. Menyiapkan alat dan bahan

Siapkan dua helai tali katun (masing-masing sekitar 100 cm), gunting, penggaris, dan cincin gantungan kunci. Jika ingin lebih menarik, siapkan tali dengan dua warna berbeda.

2. Memasang tali dengan simpul kepala

Lipat kedua tali menjadi dua bagian. Selipkan lipatan tali ke dalam cincin, lalu masukkan kedua ujung tali ke dalam lipatan dan tarik hingga terkunci. Sekarang terdapat empat untai tali: dua di tengah sebagai tali inti dan dua di tepi sebagai tali kerja.

3. Membuat simpul pipih bagian pertama

Letakkan tali kerja kiri di atas tali inti dan di bawah tali kerja kanan. Lalu masukkan tali kerja kanan di bawah tali inti dan keluarkan melalui lengkungan tali kiri dari atas. Tarik kedua tali kerja perlahan hingga simpul rapat.

4. Membuat simpul pipih bagian kedua

Balik urutannya: letakkan tali kerja kanan di atas tali inti dan di bawah tali kerja kiri, lalu masukkan tali kerja kiri di bawah tali inti dan keluarkan melalui lengkungan tali kanan dari atas. Tarik hingga rapat. Ulangi langkah 3 dan 4 secara bergantian sampai panjang anyaman simpul sesuai keinginan. Tali akan membentuk pola spiral atau pipih yang teratur.

5. Merapikan hasil makrame

Setelah simpul mencapai panjang yang diinginkan, ikat satu simpul mati di ujung, gunting kelebihan tali dengan rapi, atau urai ujung tali menjadi rumbai. Tambahkan manik-manik sebagai hiasan jika diperlukan.

F. Unsur Seni Rupa dalam Karya Makrame

Dalam membuat makrame, terdapat beberapa unsur seni rupa yang perlu diperhatikan.

Unsur Seni Rupa

Penerapan pada Makrame

Garis

Untaian tali yang lurus, lengkung, atau spiral membentuk garis pada karya.

Warna

Perpaduan dua warna tali atau lebih membuat karya menarik.

Bentuk

Susunan simpul menghasilkan bentuk karya, misalnya memanjang, segitiga, atau bulat.

Tekstur

Permukaan karya terasa timbul dan berbeda karena adanya simpul serta rumbai tali.

Pola

Pengulangan simpul menghasilkan pola yang teratur.

G. Sikap yang Dikembangkan

Melalui kegiatan membuat makrame, murid belajar untuk:

  • Teliti dan sabar saat membuat dan mengencangkan simpul.
  • Kreatif dalam memilih warna dan pola simpul.
  • Mandiri dalam menyelesaikan karya.
  • Bertanggung jawab menjaga alat dan bahan.
  • Menghargai karya sendiri maupun karya teman.

H. Kesimpulan

Makrame adalah kegiatan membuat karya seni dengan menyimpulkan tali secara berulang sehingga membentuk pola yang teratur. Keberhasilan karya makrame ditentukan oleh ketepatan teknik simpul, kerapian susunan, kesabaran, dan perpaduan warna. Melalui kegiatan ini, murid dapat mengembangkan kreativitas, keterampilan motorik halus, ketelitian, serta apresiasi terhadap karya seni.

Kesimpulan Pembelajaran

Peserta didik telah mempelajari teknik makrame dengan cara membuat simpul kepala dan simpul pipih secara berurutan hingga membentuk karya yang rapi dan menarik. Melalui kegiatan praktik, peserta didik belajar mengenal unsur garis, pola, warna, dan tekstur dalam karya seni rupa.

Kegiatan makrame melatih kreativitas, ketelitian, kesabaran, konsentrasi, dan keterampilan motorik halus peserta didik. Selain itu, peserta didik belajar menghargai karya sendiri dan karya orang lain serta menggunakan bahan secara hemat untuk mengurangi sampah, misalnya dengan memanfaatkan sisa tali untuk rumbai atau hiasan.

Refleksi

Dalam pembelajaran hari ini, sebagian besar siswa belum memahami cara membuat simpul, dan akan di pelajari lagi saat pertemuan Minggu depan

Tindak Lanjut

  • Bagi peserta didik yang sudah mencapai tujuan pembelajaran: diberikan tugas pengayaan untuk membuat karya makrame dengan variasi simpul (misalnya simpul spiral atau simpul kepang), kombinasi warna, dan bentuk yang lebih kreatif, seperti tatakan gelas atau gantungan dinding.
  • Bagi peserta didik yang masih memerlukan bimbingan: diberikan pendampingan dalam mengukur dan memotong tali, memasang simpul kepala, serta membuat simpul pipih secara bergantian hingga menghasilkan simpul yang rapi.
  • Kegiatan lanjutan: peserta didik memajang hasil karya di kelas, memberikan apresiasi terhadap karya teman, dan menceritakan proses pembuatan serta kesulitan yang dihadapi.
  • Penerapan dalam kehidupan sehari-hari: peserta didik diajak memanfaatkan bahan yang tersedia secara bijak, menjaga kebersihan lingkungan, dan menghargai kerajinan tradisional Indonesia.
  • Refleksi nilai karakter: melalui kegiatan makrame, peserta didik diharapkan semakin tekun, mandiri, kreatif, bertanggung jawab, dan bersyukur kepada Allah Swt. atas kemampuan berkarya yang dimilik

 

kamis, 5 November 2026 SBDP

  IDENTITAS Nama Guru : Puji Rahmawati Ningsih, S.Pd Mapel : Seni Rupa Hari/Tanggal : kamis, 5 november 2026 Fase/Kelas : Fase C / Kelas...